Dataran Tinggi Dieng selalu punya cara memikat pengunjung.
Berada di antara Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, kawasan ini dijuluki “negeri di atas awan” karena berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.
Kabut tipis, udara sejuk, serta panorama pegunungan yang membentang membuat siapa pun betah berlama-lama di sini.
Tak hanya pemandangan, Dieng juga dikenal sebagai pusat budaya dan sejarah Jawa Kuno yang masih hidup hingga kini.
Daya Tarik Utama di Dataran Tinggi Dieng
1. Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Dua danau kembar ini jadi ikon utama Dieng.
Airnya bisa berubah warna — dari biru kehijauan hingga keemasan — akibat kandungan belerang yang tinggi.
Pemandangan di sekitar telaga sangat fotogenik, terutama saat matahari pagi menembus kabut.
2. Kawah Sikidang
Di sinilah wisatawan bisa melihat aktivitas vulkanik dari jarak dekat.
Kawah ini memancarkan asap dan uap panas yang menari di udara.
Suara gemuruh dari dalam tanah jadi pengingat bahwa Dieng sebenarnya masih hidup secara geologis.
3. Candi Arjuna
Kompleks Candi Arjuna adalah peninggalan abad ke-8 yang merupakan salah satu situs Hindu tertua di Jawa.
Candi ini digunakan untuk pemujaan Dewa Siwa dan menjadi bukti peradaban kuno yang pernah berkembang di pegunungan ini.
4. Bukit Sikunir
Kalau kamu datang untuk berburu matahari terbit, Bukit Sikunir adalah tempat wajib.
Golden sunrise-nya sering disebut yang terbaik di Indonesia.
Dari puncaknya, kamu bisa melihat hamparan awan dan pegunungan Sindoro-Sumbing menjulang di kejauhan.
5. Festival Budaya Dieng Culture Festival
Setiap tahun, masyarakat setempat menggelar Dieng Culture Festival — acara budaya besar yang menampilkan kesenian tradisional, pesta lampion, hingga ritual pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng.
Cara Menuju Dataran Tinggi Dieng
Dari Yogyakarta, kamu bisa menempuh perjalanan darat sekitar 4–5 jam menggunakan mobil pribadi atau bus ke arah Wonosobo.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan sekitar 1 jam menuju kawasan Dieng.
Kalau berangkat dari Semarang, waktu tempuhnya sedikit lebih cepat, sekitar 3,5 jam perjalanan.
Transportasi umum juga tersedia, tapi rutenya lebih terbatas. Banyak wisatawan memilih menyewa kendaraan agar bisa lebih bebas menjelajah lokasi wisata.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Musim kemarau, antara Juni hingga September, adalah waktu paling ideal karena langit cerah dan peluang menikmati sunrise lebih besar.
Pada musim hujan, kabut sering turun lebih tebal, tapi suhu udaranya justru lebih dingin dan suasananya lebih mistis — cocok buat pemburu foto dramatis.
Tips Berwisata ke Dieng
Gunakan pakaian hangat, suhu malam hari bisa turun hingga 5°C.
Datang pagi hari ke Bukit Sikunir untuk dapatkan sunrise terbaik.
Bawa uang tunai, karena sinyal internet dan mesin ATM tidak selalu tersedia.
Hargai adat setempat, terutama saat berkunjung ke candi dan acara budaya.
Menginaplah minimal satu malam, agar bisa menikmati suasana malam yang tenang dan langit berbintang khas Dieng.
Penginapan dan Kuliner Lokal
Dieng punya banyak penginapan murah, dari homestay hingga vila sederhana.
Kamu bisa menginap di area Dieng Kulon atau Dieng Wetan, yang dekat dengan objek wisata utama.
Untuk kuliner, jangan lewatkan:
Mie Ongklok, hidangan khas Wonosobo yang hangat dan gurih.
Carica, buah khas Dieng yang rasanya mirip pepaya tapi lebih segar.
Tempe kemul, camilan goreng tepung yang cocok disantap di udara dingin.
Kesimpulan
Dieng bukan hanya destinasi wisata, tapi pengalaman spiritual dan budaya yang menyentuh.
Di balik dinginnya udara dan kabut yang lembut, tersimpan kehangatan masyarakat lokal serta kekayaan alam yang luar biasa.
Bagi siapa pun yang ingin melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk kota, Dieng selalu menjadi pilihan sempurna — sederhana, tenang, tapi penuh keajaiban.